MENJADI KELUARGA YANG MELAYANI SETURUT SABDA ALAH

 oleh : F.X. Didik Bagiyowinadi, Pr


      Dalam Lumen Gentium art. 11, keluarga kristiani disebut sebagai Gereja-rumah tangga (ecclesia domestica). Sebagai Gereja, keluarga kristiani adalah himpunan orang yang percaya kepada Kristus. Hal ini nyata ketika mereka bersekutu dalam doa menanggapi janji Yesus, “Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku di surga” (Mat 18:19). Namun, bukti nyata bahwa mereka adalah pengikut Kristus adalah ketika mereka melakukan perintah Yesus, yakni saling mengasihi (Yoh 13:34) dan saling melayani (bdk. Yoh 13:14-15). Tentu perintah ini pertama-tama harus diwujudkan di antara sesama anggota keluarga sendiri (lih. Kol 3:18-21, Ef 6:1-4), sehingga menjadi kesaksian bahwa mereka benar-benar murid Kristus (Yoh 13:35). Selanjutnya, kasih ini harus diperluas kepada semua orang, terlebih kepada saudara seiman (Gal 6:10).

      Hal senada juga ditegaskan dalam Dekret Konsili Vatikan II tentang Kerasulan Awam bahwa tugas perutusan keluarga kristiani akan terwujud:
“bila melalui cinta kasih timbal-balik para anggotanya dan doa mereka bersama kepada Allah, keluarga membawakan diri bagaikan ruang ibadat Gereja di rumah; bila segenap keluarga ikut serta dalam ibadat liturgis Gereja; akhirnya, bila keluarga secara nyata menunjukkan kerelaannya untuk menjamu, dan untuk memajukan keadilan dan amal-perbuatan baik lainnya untuk melayani semua saudara yang sedang menderita kekurangan” (AA 11).

      Dengan demikian semangat saling melayani dalam keluarga perlu terus ditumbuhkembangkan agar bisa menjadi motor bagi pelayanan dalam Gereja dan masyarakat. Kesadaran akan hal ini kiranya bisa menepis kecenderungan negatif dalam pelayanan di Gereja dan masyarakat sebagai bentuk pelarian dari tanggung jawab utama saling mengasihi dan melayani dalam keluarga sendiri.

Motivasi Pelayanan Seturut Sabda Allah

      Dalam Alkitab dinyatakan bahwa cakupan diakonia tidak sebatas pemberian bantuan materi, tetapi juga mencakup pelayanan sabda (bdk. Kis 6:1,4). Dari kisah Marta yang sibuk melayani Yesus, kita diingatkan akan perlunya memprioritaskan Dia dan mendengarkan Sabda-Nya agar kita dapat mengenal apa yang sungguh Tuhan kehendaki. Keluarga kristiani perlu datang kepada Sang Sabda agar pelayanan mereka sungguh-sungguh seturut Sabda Allah sendiri. Bukankah sering terjadi, orang begitu sibuk melakukan banyak pelayanan ini dan itu, namun dengan motivasi yang kurang tepat. Yang satu mungkin ingin mencari pujian, yang lain sebagai ajang pencitraan sebagai orang baik ataupun memiliki “modus” atau motif politis. Menanggapi hal ini, dengan jelas Sabda Tuhan mengajarkan agar kita tidak memiliki pamrih atas kebaikan yang kita lakukan (lih. Mat 6:1-4). Yang lain barangkali melakukannya sebagai balas jasa atas “hutang kebaikan” yang telah diterimanya, atau dengan harapan kelak akan dibalas demikian. Dalam hal ini Tuhan Yesus mengajak kita berani melampaui mentalitas take and gave ini (bdk. Mat 5:46-47). Belajar dari pengalaman ibu mertua Simon Petrus, yang rela melayani Yesus dan murid-murid-Nya (Mrk 1:31) karena telah disembuhkan-Nya, kiranya pelayanan kasih keluarga kita pertama-tama perlu dimotivasi oleh rasa syukur atas kasih Tuhan sendiri bagi keluarga kita. Kesadaran bahwa keluarga kita telah lebih dulu dikasihi Tuhan, akan mendorong kita membalas kasih Tuhan (bdk. 1 Yoh 4:10) dengan meneruskannya kepada sesama yang membutuhkan. Sebab dalam diri mereka yang hina dan menderita, Tuhan sendiri berkenan hadir dan dilayani (Mat 25:40).

Pelayanan Murah Hati

      Dalam melayani sesama kiranya kita bisa belajar dari pengalaman keluarga Abraham. Dengan murah hati Abraham sekeluarga menyambut dan menjamu ketiga tamunya. Bahkan sebagai tuan rumah, Abraham bersikap sebagai pelayan, yang berdiri siap melayani tamu-tamunya (Kej 18:8). Makna awal diakonia adalah pelayanan di meja makan, dimana pelayan siap-sedia memenuhi kebutuhan mereka yang sedang makan. Di sini dibutuhkan sikap peduli dan cekatan dalam melayani. Bukankah sering terjadi, orang berniat untuk melayani, namun berhenti sebatas ide dan niat baik, menunda-nunda pelaksanaannya dengan pelbagai dalih. Berkat bantuan rahmat Tuhan kita dimampukan mewujudkan kemauan dan niat-niat baik kita (bdk. Flp 2:13). Sementara yang lainnya lagi memang memberikan pelayanan, namun sayangnya tidak sesuai dengan yang dibutuhkan orang, dia sekedar melayani berdasarkan pikirannya sendiri. Pelayanan demikian belum menjawab kebutuhan orang yang dilayani. Sikap peduli akan kebutuhan konkret orang lain, akan membantu kita memberikan pelayanan yang tepat.

      Kemurahhatian Abraham berbuah manis, Sang Tamu menegaskan bahwa tahun depan Abraham akan memiliki anak. Janji Tuhan yang selama ini dinanti-nantikannya, segera terpenuhi. Tuhan sendiri, sang Tamu yang mengetahui nama istri dan dambaan hati keluarganya (Kej 18:9-10), memberikan balasan atas kemurahhatian keluarga Abraham. Hal yang senada diajarkan oleh Tuhan Yesus, bila kita berbuat baik kepada mereka yang tidak memiliki apa-apa untuk membalasnya, kita patut berbahagia karena akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar (Luk 14:14). Rasul Paulus juga menasihati, “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah” (Gal 6:9). Siapa menabur kebaikan, akan menuai kebaikan. Namun, kita tidak tahu kapan waktunya dan juga melalui siapa dan bagaimana persisnya Tuhan mengganjar kebaikan kita saat ini. Yang pasti lantaran “pembalasan-Nya” tidak segera nampak, banyak orang kemudian kendor dalam berbuat baik; maka Paulus nasihatkan “Janganlah jemu-jemu berbuat baik!”

      Selain keluarga Abraham, masih ada banyak keluarga yang menunjukkan kemurahhatian kepada sesama. Pertama, kemurahhatian yang ditujukan kepada Yesus dan para murid-Nya. Beberapa wanita mengikuti Yesus dan melayani rombongan Yesus dengan kekayaan mereka (Luk 8:3). Keluarga Maria dan Marta di Betania menjamu Yesus (Luk 10:28-45), demikian pula Zakheus (Luk 19:1-10). Di kota Filipi Paulus dan kawan-kawannya diajak menumpang di rumah keluarga Lidia (Kis 16:15). Selanjutnya di kota Korintus pasutri Priskila dan Aquila menyambut Paulus di rumahnya dan bekerjasama membuat tenda (Kis 18:3). Penulis 3 Yoh mengajak umat untuk menyambut dan dengan murah hati menjamu para pewarta Injil keliling “supaya kita boleh mengambil bagian dalam pekerjaan mereka untuk kebenaran” (1:8).
Kedua, kemurahhatian yang ditujukan kepada mereka yang membutuhkan, seperti dilakukan oleh Tabita-Dorkas yang membuatkan baju bagi para janda di Yope (Kis 9:39) maupun oleh Kornelius sekeluarga yang banyak bersedekah untuk orang Yahudi (Kis 10:2).

 

Kolekte sebagai Pelayanan Kasih
Seperti telah kita pada bagian sebelumnya bahwa kata diakoniajuga digunakan untuk menyebut praktek pengumpulan derma atau kolekte untuk orang-orang miskin. Pemberian dana ini sebagai perwujudan semangat kasih untuk saudara seiman yang berkekurangan. Dalam hal ini kita patut mengingat perhatian Paulus pada orang-orang miskin sebagaimana dipesankan oleh para sokoguru Gereja (Gal 2:10). Bersama Barnabas, ia membawa sumbangan jemaat Antiokia bagi jemaat Yudea yang menderita karena bahaya kelaparan (lih. Kis 11:27-30). Pada masa selanjutnya, ketika mengadakan perjalanan misi, Paulus tetap memotivasi jemaat-jemaat yang didirikannya untuk menyisihkan kolekte setiap hari pertama dalam pekan (1 Kor 16:2) yang akan dihimpun dan dikirimkan untuk pelayanan kasih bagi jemaat Yerusalem yang miskin (Rom 15:25, 2 Kor 8:19). Paulus memuji semangat pelayanan kasih jemaaat-jemaat Makedonia yang sebenarnya sangat miskin namun kaya dalam kemurahan (2 Kor 8:2). “Dengan kerelaan sendiri mereka meminta dan mendesak kepada kami, supaya mereka juga beroleh kasih karunia untuk mengambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus” (2 Kor 8:4). Menjadi sukacita bagi jemaat Makedonia bila boleh ambil bagian dalam pelayanan kasih ini.

      Dari praktek pelayanan kasih berupa penghimpunan kolekte di atas, kiranya keluarga dan komunitas kristiani dewasa ini dapat menemukan beberapa inspirasi berharga. Pertama, dengan memberikan kolekte, mereka berpartisipasi dalam pelayanan bagi mereka yang membutuhkan. Mereka patut bersukacita karena dengan ambil bagian dalam pelayanan ini mereka mendapat kasih karunia. Mereka memberikan sumbangan berdasarkan apa yang ada pada mereka (2 Kor 8:11-12), dengan penuh kerelaan hati, bukannya dengan sedih hati, apalagi terpaksa (2 Kor 9:7). Ini bukanlah praktek persepuluhan yang ditujukan untuk kaum Lewi, melainkan pelayanan kasih bagi orang-orang Kristen yang miskin. Kendati demikian, jumlah pelayanan kasih ini selayaknya pantas atau berpadanan dengan berkat yang telah diterima oleh keluarga (bdk. Sir 35:9).

      Kedua, kolekte yang terhimpun ini pertama-tama untuk membantu mereka yang berkekurangan. Maka prioritas penggunaan dana Gereja semestinya untuk karya karitatif dan pemberdayaan umat, bukannya sekedar untuk kesemarakan ritual ibadah ataupun kemegahan gedung ibadah, karena pertama-tama yang diminta oleh Tuhan adalah mewujudkan keadilan dan kebenaran (Am 5:21-24). Bukankah sering terjadi Pastor dan Dewan Pastoral Parokinya begitu bangga dengan aneka aset dan deposito yang mereka miliki dan dana abadi yang mereka himpun, namun lupa dengan intentio dantis umat yang memberikan sumbangan. Maka menjadi pertanyaan reflektif, dari aneka sumbangan dana umat itu sejauhmana telah disalurkan untuk aneka kegiatan karitatif dan pemberdayaan? Saya sangat terkesan dengan apa yang dilakukan oleh Gereja Italia, dimana mereka menyediakan tempat-tempat yang memungkinkan orang-orang miskin bisa mengambil jatah makanannya secara gratis. Setiap hari!

      Ketiga, pelayanan kasih ini ditujukan kepada jemaat-jemaat lain yang sangat membutuhkan. Di sini terbangun semangat solidaritas dan kesatuan sebagai satu tubuh. Menjadi pertanyaan bagi paroki-paroki kaya di Indonesia, apakah mereka juga mau solider dan berbagi dengan paroki-paroki terpencil lintas keuskupan yang  kolektenya saja tidak mencukupi untuk operasional pastoral? Dana yang terhimpun memang dari keluarga-keluarga yang bersemangat pelayanan kasih, namun penyalurannya ditentukan oleh kebijakan Pastor Paroki dan Dewan Pastoral Parokinya.

Pelayanan: Suatu Pemberian Diri dan Penyaluran Karunia
Rasul Petrus menasihati, “Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia” (1 Ptr 4:11). Kita diundang untuk  melakukan pelayanan dengan kekuatan yang dianugerahkan Tuhan. Maka pelayanan kepada sesama yang membutuhan, tidak sekedar memberikan dana, tetapi sebagai suatu pemberian diri, sebagaimana dilakukan Kristus yang telah datang untuk melayani dan memberikan nyawa bagi banyak orang (Mrk 10:45). Memberikan diri bagi sesama yang membutuhkan berarti juga memberikan hati, waktu, pemikiran, dan tenaga kita. Kiranya hal ini bisa menjadi suatu persembahan  hidup yang berkenan kepada Allah (Rom 12:1-2).

      Memberikan pelayanan, bukanlah tugas yang mudah, tidak saja kita harus berani berkurban dan memberikan diri, tetapi juga terkadang kita menghadapi tantangan manakala pelayanan kita tidak ditanggapi dengan baik, disalahmengerti, bahkan dituduh yang tidak-tidak yang tentunya akan membuat kita merasa sakit hati. Dalam situasi demikian barangkali kita perlu mengimani Sabda Bahagia, “Berbahagialah kam, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat” (Mat 5:11). St. Petrus juga menghibur umat Kristen yang menderita karena difitnah oleh masyarakat sekitarnya lantaran tidak lagi mengikuti ketidaksenonohan mereka (lih. 1 Ptr 2:12, 4:4). Tulis St. Petrus, “Lebih baik menderita karena berbuat baik, jika hal itu dikehendaki Allah, daripada menderita karena berbuat jahat” (1 Ptr 3:17).
Maka dalam pelayanan ini, semua anggota keluarga perlu menimba kekuatan dari Ekaristi, sebab dalam persatuan dengan Kristuslah kita akan menerima kekuatan untuk meneruskan pelayanan. Pelayanan kasih kita akan berbuah manakala bersatu dengan Sang Pokok Anggur, “sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbat apa-apa” (Yoh 15:4).

Perwujudan Pelayanan Dewasa Ini

            Bagaimana secara konkret keluarga kristiani dewasa ini bisa mewujudkan pelayanan dalam situasi dewasa ini? Dalam hal ini kita bisa merujuk aneka aktivitas pada Mat 25:42-44 yang dirangkum sebagai bentuk pelayanan bagi Tuhan sendiri. Dari teks ini kita bisa mencoba merinci lebih lanjut untuk relevansinya dewasa ini:

  • Aku lapar – kamu memberi makan: menyediakan makan bagi orang miskin, gelandangan, dan yang berada di posko pengungsian, memberikan bantuan sembako, menciptakan lapangan kerja, memberdayakan potensi sesama agar bisa mandiri
  • Aku haus – kamu memberi minum: minuman memberi kelegaan bagi yang dahaga dan minum obat memberi kesembuhan bagi yang sakit (lih. Sir 38:4-7). Barangkali secara figuratif teks ini termasuk menyapa mereka yang memberi telinga bagi yang tengah berbeban berat dan memberikan kata-kata peneguhan bagi yang sedang galau dan bermasalah.
  • Aku orang asing – kamu memberi tumpangan: keramahtamahan dalam menerima tamu, termasuk orang asing. Bagaimana orang-orang asing seperti anak kost, perantau, dan orang-orang yang kerap disingkirkan oleh masyarakat kemudian merasa tersapa dan terlindungi? Apa yang bisa dilakukan oleh keluarga dan komunitas kristiani? Beberapa paroki memiliki proyek “Bedah Rumah” untuk meningkatkan kesejahteraan sesama yang membutuhkan.
  • Aku telanjang – kamu memberi pakaian: Secara konkret hal ini bisa dilakukan dengan memberikan pakaian kepada yang membutuhkan seperti pengalaman iman St. Martinus. Dengan memberikan pakaian yang layak, kita memperlakukan sesama sesuai martabatnya yang berharga. Maka hal sebaliknya, “menelanjangi” orang lain bukanlah bagian dari perbuatan kasih. Sebaliknya, dalam dan karena kasih orang berani menutupi segala sesuatu, termasuk masa lalu dan kekuragan orang lain (lih. 1 Kor 13:7).
  • Aku sakit – kamu melawat: Kunjungan kepada yang sakit merupakan bentuk perhatian dan solidaritas bagi mereka yang sakit. Doa bersama si sakit merupakan kesempatan untuk bersama-sama memohon campur tangan Tuhan dalam proses penyembuhan. Niscaya melihat “iman kita bersama” (bdk. Mrk 2:5) Tuhan berkenan menganugerahkan kesembuhan. Si sakit terbebanii bukan saja karena penyakitnya tetapi juga oleh beban finansial yang harus ditanggung. Apa yang bisa dilakukkan oleh keluarga dan komunitas kristiani dalam situasi demikian?
  • Aku dalam penjara – kamu melawat: Orang yang dipenjara adalah orang-orang yang terkurung, dijauhkan dari masyarakat, entah sebagai konsekuensi kesalahan yang mereka lakukan ataupun korban ketidakadilan. Mereka yang terkurung dalam penjara tidak bisa bergerak bebas. Secara nyata kunjungan ke penjara merupakan dukungan bagi mereka. Dalam kondisi demikian Tuhan tetap mencintai mereka. Secara figuratif, barangkali masih banyak orang yang terpenjara sehingga tidak bisa bergerak bebas, entah karena terlilit oleh masalahnya sendiri, keterbatasan pemikiran dan wawasan, dsb, maka aneka upaya penyadaran dan motivasi untuk bangkit kembali menjadi sumbangan yang sangat berarti.

Semoga keluarga dan komunitas kristiani semakin mampu melayani seturut Sabda Allah!

sumber: http://www.imankatolik.or.id/Menjadi%20Keluarga%20yang%20Melayani%20Seturut%20Sabda%20Alah.html

Rm. Bastian CM

Rm. Bastian CM adalah imam Kongregasi Misi (CM). Pastor Rekan Paroki Kelahiran Santa Perawan Maria, Surabaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *