MELESTARIKAN MISI PARA PERINTIS KELSAPA

Dua abad lebih berlalu, perjalanan penuh liku. Tetapi kasih Allah tiada henti memacu umatNya untuk menuai berkat. Kini kembali menegakkan jejak yang telah dirintis oleh para pendahulu, mengukir sejarah keselamatan Allah di Kelsapa tercinta selama 206 tahun. Tanpa mengeluh dan menggerutu. Tetapi wujud nyata boleh menjadi penuntun generasi ke generasi. Maka Kelsapa Gereja tertua di Keuskupan Surabaya, dimampukan merumuskan motonya,” TUA GEREJANYA MUDA SEMANGATNYA”

Penemuan Fakta
Perjalanan itu mencari kebenaran dan pada saatnya ditemukan bukti nyata. Peziarahan Kelsapa yang pada tahun ini mencapai 206 tahun, temuan ini telah tercatat pada Buku Induk Baptis dengan nomor urut 1 (satu). Di sana tercatat tanpa tanggal George dibaptis pada tahun 1810 meski tanpa tanggal dan bulan. Catatan otentik ini ditemukan dalam catatan rapat Paroki. Bukti lainnya menunjuk pada,sejak 12 Juli 1810 Gereja ini telah digembalakan 2 orang Pator misionaris ,yakni : Pastor Hendrikus Wanders dan Pastor Philipus Wedding. Bagaimana pun sederhananya dokumen ini, tetap menjadi bukti otentik. Karena di zaman itu juga masih belum diwarnai teknologi yang tinggi, meski demikian tetap merupakan kebenaran hakiki. Dan hal tersebut menjadi tonggak sejarah Kelsapa.

MENEMUKAN dan mengenang SEJARAH KESELAMATAN
Kalau kembali menghitung sebagaimana yang tercatat dalam Buku Induk Baptis, yang dimiliki dan selalu tersimpan di stasi Surabaya (sampai sekarang) juga mencatat pembaptisan sejak tahun 1810. Pada masa itu tidak dikenal yang namanya perubahan dari stasi dijadikan paroki. Istilah “paroki” sebagai suatu pembagian wilayah administratif belum dikenal, yang dikenal hanyalah istilah “stasi” atau gereja Katolik.
Dengan demikian, stasi Surabaya dengan fungsi parokialnya, yang kemudian berpusat di Jl. Kepanjen No. 4 -6 , sebagai Paroki Kelahiran Santa Perawan Maria (Kelsapa) , sebagaimana kita kenal sekarang, harus dikatakan sudah lahir atau berdiri sejak tahun 1810 (bukan tahun 1815) dan pada tgl : 8 September 2016 ini sudah berusia 206 tahun, karena alasan-alasan berikut : (1)Penugasan resmi seorang imam secara menetap dan berkelanjutan sejak tahun 1810; (2)Pelayanan gerejani (ekaristi dan sakramen-sakramen lain) sejak tahun 1810; (3) Mulai pencatatan pembaptisan sejak tahun 1810; (4)Penghargaan atas sejarah kehadiran Gereja Katolik di kota Surabaya sejak tahun 1810, (5)atas kerja misionaris awal sejak kedatangannya pada 12 Juli 1810.

BERJUANG dengan Iman, Harapan dan Kasih
Kalau saat ini kita menyaksikan gedung gereja yang megah dan umatNya berwajah ceria, itu tidak berarti peziarahan yang tanpa pengorbanan. Para misionaris awal telah mengalami pengorbanan yang luar biasa. Era 1941 – 1946 merupakan saat kegelapan dari sejarah Paroki Kelsapa khususnya, dan gereja –gereja lain di Indonesia. Pendudukan tentara Jepang telah memporak porandakan karya misi. Para misionaris digiring ke kamp kosentrasi di Cimahi, Jawa Barat. Mereka mengalami berbagai penderitaan mulai dari minimnya gizi yang dikonsumsi, penyiksaan insani maupun rohani. Itu semua terjadi karena terbatasnya fasilitas yang disediakan untuk para penghuni kamp. Hari ke hari dilewati dengan penderitaan dan kesedihan. Penderitaan para misionaris terlukis dalam “ratapan” Romo Bastiensen,CM di depan makam Mgr. de Backere,” Mgr, saya berdoa di dekatmu. Kami sedang dirundung kesusahan besar, terpukul karena kehancuran misi yang telah engkau bangun dengan susah payah. Kami hampir putus asa. Engkau begitu mencintai misi di Jawa di sana engkau telah berdoa, menderita, berjuang bekerja lebih berat daripada kami sekarang. Jadilah pengantara kami pada Tuhan. (Missiefront 1948)

Tuhan mengabulkan doa Romo Bastiensen,CM. Porak poranda gedung gereja dengan segala fasilitasnya, tidak menyurutkan iman dan perjuangan umat Kelsapa. Penyelenggaraan kasihNya yang telah tertanam di Kelsapa tetap menjadi penggerak umat di era kehancuran. Bahkan kasihNya senantiasa hadir di dalam setiap kesulitan umatNya.

Kebrutalan tentara Jepang, dan keganasan Perang Dunia II menorehkan luka di Kelsapa. Tetapi justru dalam luka dan derita yang mendera, membangkitkan semangat juang para misionaris beserta umatNya untuk membangun kembali tempat kudus bagi Allah. Vikaris Apostolik Surabaya (1942-1952),Mgr. Micheael Verhoeks,CM mengobarkan semangat dan api pengharapan,” Saya berharap agar Anda seperti pohon yang kokoh dan tetap berbuah, semakin keras dan lama musim dingin menerpa; dan menghalangi untuk tumbuh semakin dalam pohon itu berakar dan semakin banyak buah kelak dihasilkan. Dalam segala peristiwa kita harus menyesuaikan diri dengan peraturan Allah, dan hanya menginginkan agar kehendakNya terjadi. Kewajiban kita adalah mengikuti kehendakNya tanpa mempedulikan apakah itu menyusahkan atau menyenangkan.”

MEMPERJUANGKAN KELESTARIAN KELSAPA
Fondasi kokoh telah mendasari Kelsapa! Umat Kelsapa hendaknya tidak hanya mengagumi kekokohan yang telah terbentuk, tetapi berjuang memperindah kekokohan fisik itu dan mengokohkan setiap anggota untuk bersatu membangun Tubuh Mistik Kristus yang peka pada tanda-tanda zaman. Itu berarti umat siap sedia mengorbankan diri kalau diperlukan oleh Gereja Kelsapa yang akan terus bertumbuh kembang pada zamannya. Kesiap sediaan umat yang berjumlah 3385 lebih,pasti dimampukan untuk menampilkan bangunan rohani yang seindah bangunan gedung gereja Kelsapa. Umat harus siap sedia berkorban agar Kelsapa menjadi terang dan garam dunia di kota Pahlawan ini.

Perjalanan sejarah Kelsapa selanjutnya diteruskan oleh para Pastor yang diutus menggembalakan umatNya di Kelsapa. Namun yang bertanggungjawab atas lestarinya Kelsapa bukan hanya pada para Pastor. Tetapi Gereja yaitu umat Allah ikut ambil bagian perjalanan selanjutnya. Pembangunan insani dan rohani telah diperjuangkan oleh setiap Romo Kepala Paroki beserta rekannya yang di utus ke Paroki Kelsapa. Dan Kelsapa digembalakan oleh Romo-romo CM sejak tahun 1923 – sampai saat ini.

Oleh sebab itu setiap Pastor Kepala Paroki beserta rekannya yang diutus di Kelsapa dengan upayanya, senantiasa konsisten untuk membangun daya juang umat Allah yang rela sedia terlibat menggereja secara insani dan rohani,” para Romo meneladani , menggerakkan agar umat senantiasa terlibat melestarikan bangunan fisik gedung yang pasti dari tahun ke tahun mengalami penyusutan daya tahannya. Dan itu membutuhkan dana untuk renovasi. Suatu misal di dalam rangka pesta tahun 2015 renovasi gereja sampai saat ini. Pembangunan rohani telah diupayakan peremajaan juang para misionaris beserta umatNya untuk membangun kembali tempat kudus bagi Allah.

Oleh sebab itu setiap Pastor Kepala Paroki beserta rekannya yang diutus di Kelsapa dengan upayanya, senantiasa konsisten untuk membangun daya juang umat Allah yang rela sedia terlibat menggereja secara insani dan rohani,” para Romo meneladani , menggerakkan agar umat senantiasa terlibat melestarikan bangunan fisik gedung yang pasti dari tahun ke tahun mengalami penyusutan daya tahannya. Dan itu membutuhkan dana untuk renovasi. Suatu misal di dalam rangka pesta tahun 2015 renovasi gereja sampai saat ini. Pembangunan rohani telah diupayakan peremajaan person-person yang terlibat di dalamnya. Dan unsur lain yang telah diupayakan oleh Rm. Her yaitu pengkaderan kaum muda untuk terlibat di Dewan Pastoral Paroki (DPP) dan Seksi-seksi yang ada di Paroki. Yang masih perlu ditingkatkan yaitu keterlibatannya membangun persekutuan, dan terlibat pada setiap program Paroki.
Pada kesempatan ulang tahun Kelsapa ke 206 ini kita kembali bersyukur sebagaimana Rasul Paulus mensyukuri jemaatNya di Filipi,”Aku mengucap syukur kepada Allahku karena persekutuanmu dalam Berita Injil mulai dari hari pertama sampai sekarang ini. Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus” (Fil 1 : 5-6) Kiranya dari sabdaNya akan melimpah berkat untuk umat di Paroki kita.”

(Dari berbagai sumber – Sr.M. Lina,SPM)

Hersemedi

Rm. Hersemedi CM adalah imam Kongregasi Misi (CM). Pastor Kepala Paroki Kelahiran Santa Perawan Maria, Surabaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *