MUDA DAN BERBUDAYA UNTUK INDONESIA

17 Agustus dirayakan sebagai hari kemerdekaan Indonesia, negeri yang kita tinggal. Beragam cara diungkapkan sebagai bentuk syukur atas kemerdekaannya yang memasuki 72 tahun. Ada yang mengadakan upacara dan ada juga yang mengadakan lomba. Paroki Kelsapa juga turut serta merayakan kemerdekaan Indonesia dengan mengadakan misa 17an yang bertemakan “Muda dan Berbudaya”

Acara diawali dengan misa yang dipimpin oleh Romo Hersemedi, Romo Sebastian, dan Romo Alo. Sebelum misa dimulai diadakan pembacaan teks proklamasi dan menyanyikan lagu Indonesia Raya yang diikuti oleh romo dan seluruh umat.

Dalam homili yang dibawakan oleh Romo Sebastian, Ia menyatakan berbagai orang menyatakan kemerdekaan sesuai versi mereka. Ada yang dibilang bebas dari penjajah ada juga yang bisa membangun dan bisa berdiri sendiri. Santo Petrus menyatakan hidup seperti orang-orang merdeka namun tidak menggunakan kemerdekaan untuk hal jahat namun hidup sebagai hamba Allah. Untuk itu Romo Sebastian menyatakan untuk belajar mengasihi diri sendiri dan juga orang lain.

Namun kita juga diajak untuk mewarnai kehidupan bermasyarakat sesuai cara kita masing-masing. Ia mencontohkan kepanitiaan HUT Paroki yang berisi OMK. Beragam kegiatan sudah dilakukan seperti mewarnai kampung atau mengadakan bakti sosial. Dengan mengikuti cara sederhana tersebut sudah memberikan kepada bangsa.

Acara dilanjutkan dengan ramah tamah yang dibuka dengan tari gelang ro’om. Dilanjutkan dengan sambutan dari Romo Sebastian selaku romo bidang pembinaan. Sembari OMK makan malam dihibur dengan musik akustik yang bertemakan lagu-lagu kemerdekaan oleh Joycoustic. Setelah itu diadakan pembagian hadiah dengan menjawab pertanyaan seputar kebangsaan yang dibawakan oleh Cecil selaku MC. Para OMK terlihat bersemangat menjawab berbagai pertanyaan yang dibawakan.

Sesi bersama Vincentius Awey

Dilanjutkan dengan penampilan dari Vincentius Awey yang merupakan anggota DPRD Surabaya. Ia mengajak OMK untuk merenungkan sejenak jasa para pahlawan Indonesia yang sudah berjuang merebut kemerdekaan Indonesia. Kemerdekaan tersebut diraih dengan tidak mudah dengan mengorbankan materi, pikiran, bahkan nyawa.

Bang Awey panggilan akrabnya juga menyatakan Indonesia terdiri dari macam-macam suku, budaya, dan agama. Itu semua diikat dengan ideologi Pancasila sebagai pemersatu. Namun sebagai orang muda juga waspada dengan beragam ideologi yang merusak pancasila. Jika tidak maka Indonesia diambang kehancuran jika kita tidak peka akan permasalahan masyarakat. “Kalau bukan kita siapa lagi” kata Bang Awey.

Selain itu, Ia juga menyatakan anak muda juga peka dalam berbagai permasalahan bangsa dan membuka pintu selebar-lebarnya akan lingkungan sekitar. Untuk itu, Ia menyatakan membangun konsensus yaitu mulai mengikuti organisasi di gereja untuk belajar dan mengasah kepekaan akan gereja dan juga lingkungan sekitar. Yang kedua mulai peduli akan kehidupan keseharian kita dengan berbaur dan menjadi garam terang di lingkungan sekitar. Sesi bersama Vincentius Awey ditutup dengan menyanyikan lagu “Rayuan Pulau Kelapa”

Acara dilanjutkan dengan hiburan standup comedy dari Wahyu Togog yang mengajak anak muda untuk tidak berputus asa dalam kehidupan. Ia mencontohkan bisnisnya yang sempat naik turun namun Ia berusaha bangkit kembali. Setelah hiburan tersebut ditutup dengan penampilan akustik dari Joycoustic dan dilanjutkan dengan foto bersama panitia. Semoga OMK Paroki Kelsapa bisa menjadi garam dan terang bagi paroki dan lingkungan sekitar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *