Misi Lazaris (1923 – 2017)

Tanggal 1 Juli 1923 dilangsungkan serah terima misi dari Romo-Romo Yesuit kepada para imam CM.

Mulai saat itu Romo de Backere menjabat : (1) Superior misionaris; (2) Superior Religius; (3) Pastor Kepala Paroki Bunda Maria, Surabaya ( salah satunya Kelsapa saat ini – red).
Rm. Dr.Th. E. de Backere,CM

Keyakinan missioner Romo de Backere CM. “ Mempersiapkan jalan bagi Tuhan.” ( 80 tahun Romo-Romo CM di Indonesia hlm 176)
Rentang sembilan puluh empat tahun Kongregasi Misi (CM) menggembalakan umat Kelsapa. terhitung sejak 1 Juli 1923 . Tercatat dalam peziarahan Kelsapa, bahwa sebelum kehadiran Romo-romo CM penggembalaan umat Kelsapa telah diawali oleh para imam diosesan dari Belanda,OFM, dan Yesuit. Apa tekad Lazaris bermisi ke Surabata? “ Kehadiran Romo CM tidak hanya sekedar “meneruskan” misi para Romo Yesusit, melainkan juga mengembangkannya.” Kata Mgr de Backere. ( Sejarah hati misi hlm 32)

NILAI SEJARAH MISI
Kalau Kelsapa ini berawal pada tahun 1810, kini berusia 207 tahun, usia yang sudah lanjut . . . lanjut. ,” Tua GerejaNya, Muda Semangatnya.” Karena moto tersebut merupakan sebuah ungkapan yang lahir melalui dialog antara iman dan akal budi menjelang perayaan 200 tahun ( 205 – red) yang sebenarnya saat itu Kelsapa telah mencapai usia 205 tahun. Umat begitu bangga dengan Kelsapa, karena predikatnya yang melekat “ Gereja tertua di Jawa Timur” bahkan Indonesia bagian Timur. Dan lebih seru lagi “CIKAL BAKAL GEREJA” Keuskupan Surabaya. Karena Gereja ini merupakan cikal bakal Keuskupan Surabaya. Itu juga berarti Kelsapa mengukir sejarah unik melebihi paroki-paroki lain di Jawa Timur. Dengan predikat yang demikian unggul itu, kami umat Kelasapa mau berperan apa selaku penerus misi?! Karena setiap zaman, memiliki kekhasan dan inilah yang juga menjadi kekhasan Kelsapa. Lebih dari itu Kelsapa juga menerima penghargaan menjadi salah satu “CAGAR BUDAYA” di kota PAHLAWAN pada tahun 1998dengan SK Walikota Surabaya No. 188/45/004/1998. Dan di tempat ini para wisatawan/wati ingin mengunjunginya. Kelsapa juga menjadi tempat kajian studi bagi para mahasiswa/i beberapa Universitas, sekolah-sekolah di Surabaya. Itulah buah perjuangan para misionaris; yang dilanjutkan oleh para Gembala di paroki ini. Maka umat Kelsapa selaku penerus sejarah misi dituntut pelayanan plus bersama para Gembala (CM/Lazaris) yang berjuang untuk mengembangkan Kelsapa. Mengembangkan, bukan sekedar kuantitas tetapi kualitas. Dan semangat missioner harus semakin kental di dalam hati para umat.
Kalau para Gembala, memahami misinya dari sejarah yang mencatatnya, semoga para umat juga mau terlibat dari jejak para Gembalanya. Inilah yang tercatat dalam sejarah Misi LAZARIS,” Bahwa para Romo CM diserahi wilayah Surabaya, hal itu mereka pandang sebagai “Penyelenggaraan Ilahi” . Mereka mengenal Surabaya lewat berita-berita, bahwa kota ini memiliki prospek masa depan yang cerah. Mereka dianugerahi, mereka tidak memilih” (Sejarah Hati Misi hlm 6)
Yang pasti para Romo CM memahami, memperjuangkan anugerah ini ke dalam wujud penyelamatan gedung dereja,dan penggembalaan umat yang terbukti “ADA dan HIDUP” sampai saat ini..
MISI CM
Mengangkat para pelaku sejarah Kelsapa, yang sejatinya tak dapat lepas dengan sejarah awal Keuskupan Surabaya. Di sinilah kita para umat Kelsapa, perlu hening membatinkan bahwa kita juga merupakan bagian perintis sejarah keselamatan. Pertanyaannya,” Apakah yang perlu kita tingkatkan selagi peran itu tak pernah lepas dari diri kita masing-masing Lalu semangat/jiwa (spiritualias) siapa yang menjadi warna perjuangan umat selama ini?”
Untuk menggali spiritualitas yang menghidupi Kelsapa, maka paparan membatasi pada misi CM. Meski ada beberapa tarekat yang mengawali di Kelsapa, sebelum kehadiran para Romo CM.
Dalam catatan disebutkan 5 orang Romo CM yang datang di tahun 1923(1) Romo Theophile DE BACKERE CM;(2) Romo Emile SARNEEL CM;(3) Romo Theodore HEUVELMANS CM;(4) Romo Jan WOLTERS CM; (5) Romo Coenrille KLAMER CM.
Kelima orang Romo ini berusia 41 tahun, 42 tahun, 30 tahun, dan 27 tahun. Menurut catatan kelimanya memiliki kesehatan yang bagus dan semangat missioner yang besar untuk karya misi di Jawa. Jadi tepatlah komposisi para peletak dasar misi di Keuskupan Surabaya. Yang dimaksud di sini adalah Kelsapa.
Misi Romo-Romo CM yang telah dirumuskan sejak awal kehadirannya di Kelsapa adalah “ mengembangkan”, dari tekad ini; kemudian terjadi beberapa hal yang menghambat perkembangan sejarah keselamatan di Surabaya khususnya di Kelasapa. Antara lain di zaman pendudukan Jepang gedung gereja diporak porandakan, dan para Romo CM masuk kamp interniran Jepang. Sementara para misisonaris bergumul dengan perjuangannya, tetapi hambatan datang silih berganti. Siapa penerusnya?
Untuk melacak peziaran misi Lazaris/CM dan siapa yang terlibat di dalamnya,ditemukan catatan di sekitar tahun 1961dari paroki Kelsapa. Yang pasti para pemegang peran waktu itu telah tiada. Tetapi doanya senantiasa didaraskan untuk kita. Semoga doa-doanya membangkitkan umat Kelsapa untuk meningkatkan perannya menjadi penerus sejarah misi. Sekedar pengingat bagi kita karya para penerus tempo dulu, semoga tampilan sederhana yang dibuatnya dengan mencurahkan segala daya, agar dimampukan mempersembahkan spiritual dan financial bagi Kelsapadari masa ke masa. Sehingga Kelsapa tetap ada di Surabaya. Inilah sebagian kecil upaya para tokoh umat Kelsapa di masa lampau.

Stefani

Stefani adalah salah satu anggota KOMSOS Paroki Kelahiran Santa Perawan Maria Surabaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *