Belajar pewartaan di era digital dari Sang Redaktur Jawa Pos

Siapa yang tidak kenal dengan Jawa Pos? Sebuah surat kabar harian yang berpusat di Surabaya dan merupakan salah satu harian dengan oplah terbesar di Indonesia. Maka menjadi istimewa jika pada hari Minggu, 21 Oktober 2017 seksi Komsos Paroki Kelsapa berhasil mendatangkan Bapak Doan Widhiandono, Redaktur Jawa Pos, untuk memberikan pelatihan jurnalistik bagi warga Paroki Kelsapa. Dalam waktu sekitar 2 jam, para peserta pelatihan jurnalistik memperoleh materi dan berdiskusi dengan Bapak Doan seputar “Jurnalistik dan Tugas Pewartaan di Era Digital”.
Dengan bahasa yang lugas dan kadang menggelitik, Bapak Doan memperkenalkan jurnalistik sebagai sarana mewartakan Kerajaan Allah. Pewartaan sendiri menjadi tugas setiap umat Katolik karena pembaptisan. Yang mungkin banyak umat belum mengetahui adalah bahwa jurnalistik atau pewartaan tidak melulu dalam bentuk berita atau warta tertulis, melainkan juga meliputi foto dan video. Sebuah foto Bapa Paus yang mencium kaki narapidana menjadi sebuah foto yang berbicara bukan sekedar rekaman peristiwa, melainkan membawa pesan dan ajaran kasih Allah kepada sesama. Sebuah video yang menggambarkan kegiatan seorang Romo bersama dengan anak-anak calon penerima komuni pertama, menyanyi dan menari menirukan jalannya KingKong yang kakinya pendek, memiliki arti tersendiri bagi umat yang mengenalnya. Mereka melihat gembala mereka yang sungguh-sungguh dekat dan mau berinteraksi tanpa gengsi dan malu dengan umatnya. Berita, foto dan video sungguh menjadi alat untuk mengedukasi, menginformasikan, menghibur dan juga mempengaruhi.
Di era digital saat ini, umat yang semakin akrab dengan sosial media dapat memanfaatkan berbagai sarana sosial media ini untuk tugas pewartaan. Sebaiknya umat juga berhati-hati dalam meneruskan pesan-pesan yang diterimanya karena banyaknya berita bohong (hoax) yang beredar. Dalam proses pewartaan tersebut, khususnya jika bentuk pewartaan yang dipilih adalah berita atau bentuk tulisan, maka prinsip sederhana yang dapat diacu mengenai isi berita adalah adanya unsur 5W – 1H di dalamnya, yaitu ‘Who, What, Where, When, Why, dan How’. Lebih baik lagi jika dapat ditambahkan unsur ‘What Next’ dan ‘WOW effect’ di dalamnya. What next berkaitan dengan pesan persuasif yang disampaikan, misalnya hal-hal apa yang diharapkan umat lakukan terkait dengan pesan pewartaan yang disampaikan, dan ‘Wow effect’ berkaitan dengan gaya cerita/judul/foto/isi yang dibuat semenarik mungkin. Inti berjurnalistik yang baik, pesan Bapak Doan… “Choose your own values…! and know your reader…!” (Pilihlah nilai atau pesan pewartaan yang akan disampaikan dan kenali penerima pesan Anda..)
Pesan terakhir yang disampaikan Bapak Doan bagi para peserta pelatihan adalah “Jangan takut menulis! Resep pewartaan atau menghasilkan karya jurnalistik yang baik adalah… menulis… menulis… dan menulis… , serta mencoba… mencoba… dan mencoba…“ Mari bersama Bapak Doan, kita nantikan berbagai karya dari warga Paroki Kelsapa sebagai buah dari pelatihan jurnalistik ini. Semoga Tuhan sendiri yang berkarya melalui mereka. Amin. (Lanny)

Stefani

Stefani adalah salah satu anggota KOMSOS Paroki Kelahiran Santa Perawan Maria Surabaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *