GEREJA YANG SENANTIASA MENGUPAYAKAN KEKUDUSAN DALAM SIKAP DAN BATIN

Kisah Medali Wasiat berawal dari penampakan Bunda Maria kepada St. Katarina Laboure. St Katarina (1806-1876, dikanonisasi 1947) adalah puteri seorang petani, yang kesembilan da­ri sebelas bersaudara. Ketika usianya delapan tahun, ibunya meninggal dunia. Bahkan dalam usia yang masih amat belia, St. Katarina telah menunjukkan kasih yang istimewa kepada Bunda Maria. Sepeninggal ibunya, St Katarina memanjat sebuah kursi agar dapat menggapai patung Bunda Maria di rumah mereka. Ia mendekapkan patung itu ke dadanya sembari berkata, “Sekarang, Bunda Maria terkasih, engkau akan menjadi ibuku.”
Pada malam hari 18 Juli 1830, St Katarina melihat Bunda Maria duduk di tempat paduan suara di kapel rumah induk. Bunda Maria mengatakan, “Anakku, Allah yang baik hendak menugasimu dengan suatu misi. Engkau akan banyak menderita, tetapi engkau akan mengatasi penderitaan-penderitaan ini dengan merenungkan bahwa apa yang engkau lakukan adalah demi kemuliaan Allah. Engkau akan mengetahui apa yang dikehendaki Allah yang baik. Engkau akan menderita hingga engkau mengatakan kepada dia yang ditugasi untuk membimbingmu. Engkau akan ditentang tetapi, janganlah takut, engkau akan beroleh rahmat. Katakanlah dengan penuh kepercayaan segala yang terjadi dalam dirimu; katakan dengan bersahaja. Percayalah. Jangan takut.”
Pada tanggal 27 November 1830, Bunda Maria kembali menampakkan diri kepada St Katarina sekitar pukul 5.30 petang. Di saat penampakan itu, Bunda Maria menjelaskan mengenai simbolisme sehubungan dengan penampakannya seperti : “Bola ini yang engkau lihat melambangkan seluruh dunia, khususnya Perancis, dan setiap orang secara istimewa. [Sinar-sinar kemilau] adalah lambang rahmat-rahmat yang aku limpahkan atas mereka yang memohonnya. Permata-permata yang darinya tidak terpancar sinar adalah rahmat-rahmat yang lupa dimohonkan oleh jiwa-jiwa.”
Bunda Maria kemudian memerintahkan kepada St Katarina agar sebuah medali dibuat seturut gambar ini. Di sisi belakang medali hendaknya terdapat sebuah M yang besar dengan sebuah palang dan sebuah salib di puncaknya; di bawah M terdapat Hati Yesus dimahkotai duri, dan Hati Maria ditembusi sebilah pedang. Bunda Maria juga mengatakan, “Mereka semua yang mengenakan medali ini akan menerima rahmat-rahmat istimewa; hendaknya mereka mengenakannya pada leher. Rahmat akan dicurahkan secara berlimpah ruah kepada mereka yang mengenakannya dengan penuh kepercayaan.”
Itulah sekilas sejarah mengenai terjadinya kisah hebat mukjizat Novena Medali Wasiat, lewat kesaksian kebenaran hidup St. Katarina yang begitu mulia bagi kita umat Katolik. Sejarah yang penuh arti mulia inilah yang memberikan kita sebuah tauladan iman bahwa Tuhan begitu mencintai kita umatNya. Seperti arti mulia nilai Novena Medali Wasiat ini, kita umat Kelsapa harus membawanya di kehidupan kita. Meski cuaca tidak mendukung, tidak melunturkan antusias dan semangat umat Kelsapa dalam menimba kekuatan dari sang Juru Selamat yakni Yesus Kristus dalam perayaaan Ekaristi pada hari Jumat 24, November 2017.
Gereja Katolik sekaligus mengkumandangkan perayaan peringatan wajib Santo Andreas Dng Lac, dkk sebagai imam martir, serta melanjutkan doa Novena Medali Wasiat yang ke-7 dengan bertemakan “ Gereja yang senantiasa mengupayakan kekudusan dalam sikap dan batin.” Dalam homili yang disampaikan oleh Rm. Bani, CM, beliau mengajak kita untuk memiliki sikap dan batin yang pantas dalam beribadah di bait Allah, dan tidak meniru para imam kepala dan ahli taurat serta orang-orang terkemuka bangsa Israel. Dalam refleksi kita sebagai umat beriman, kita harus membangun sikap dan batin yang pantas agar apa yang kita perbuat berkenan kepada Allah, sehingga dalam Kristuslah terdapat Gereja yang selalu mengupayakan kekudusan.
Semoga dengan nilai kebenaran lewat Novena Medali Wasiat ini, kita mampu memberikan kesaksian iman kepada semua orang lewat sikap dan batin yang dilandasi cinta dalam kehidupan sehari-hari. Berkat Tuhan menyertai setiap langkah hidup kita. Amin. (Martinus Suwarno & Jose).

Stefani

Stefani adalah salah satu anggota KOMSOS Paroki Kelahiran Santa Perawan Maria Surabaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *